Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

Novel : FURIN KAZAN

Furin Kazan

Yasushi Inoue


Satu

Tidak ada yang mengetahui asal-usul Aoki Daizen,selain dikenal sebagai mantan pengikut keluarga Hojo yang kehilangan posisi karena melakukan kesalahan besar,
samurai tak bertuan berusia 30 tahunan itu, tiba di kota benteng Sunpu yang diperintah Imagawa Yoshimoto, setahun lalu. Tidak ada hal lain yang diketahui orang tentang dirinya.

Kebanyakan pengikut Imagawa akan menghindar bila berpapasan di jalan dengan Aoki Daizen. Wajah dan sosoknya memancarkan sesuatu yang tidak menyenangkan;

Sabtu, 18 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (30)

Oleh : Rizki Ridyasmara

Bab 42
  
DUGAAN KAPTEN BOUWENSCH TERNYATA SALAH total. Sekembalinya dari Selarong ke Benteng Vredeburg, hampir di segala penjuru Yogya, para penduduk keluar rumah dengan membawa berbagai macam senjata. Mereka berkumpul di alun-alun kampung dan desa untuk mendengarkan instruksi dari para kepala dan berangkat berbondong-bondong ke Selarong. Mereka semua mendengar jika Belanda baru saja menyerang Selarong. Hal ini menimbulkan kemarahan di dalam dada rakyat banyak dan mereka segera angkat senjata dan pergi ke Selarong untuk membantu Pangeran Diponegoro dan yang lainnya.

Jumat, 17 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (29)


Oleh : Rizki Ridyasmara

“Itu tenda Kanjeng Pangeran,” ujar Ki Singalodra dengan menunjukkan tangan kirinya ke arah sebuah tenda yang tidak berbeda dengan tenda yang lainnya, hanya saja terdapat pohon jati yang meranggas di dekatnya. Ki Singalodra kemudian menuntun kuda hitamnya menyusuri jalan setapak di antara hamparan rumput tersebut menuju tenda tersebut.

            “Assalamu’alaikum, Ki...”
            Tiba-tiba Pangeran Mangkubumi sudah muncul di depan mereka, bagaikan muncul begitu saja dari dalam bumi.    

            Dengan sedikit terkejut, Ki Singalodra menjawab salam itu, “...eh Kanjeng Pangeran Mangkubumi... Wa’alaikumusalam...”

Kamis, 16 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (28)


Oleh : Rizki Ridyasmara

Setibanya di pelataran atas, Akhmad Prawiro berdiri di depan gua dan mengucapkan salam. Pangeran Diponegoro dan yang lainnya menjawab salam pemuda keturunan Cina tersebut.

            “Mari masuk, Kisanak,” ajak Diponegoro.  
Dengan penuh hormat, Akhmad Prawiro melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu—demikian yang diajarkan para guru ngaji sejak dia masih kanak-kanak—untuk memasuki rumah atau bangunan lainnya. Dia kemudian duduk bersila, mengikuti seluruh sesepuh yang ada di dalam gua tersebut.

Rabu, 15 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (27)


Oleh : Rizki Ridyasmara


“Itu saja, Kapten. Kembalilah kepada pasukanmu dan siapkan mereka dengan baik.”
            “Siap, Kolonel!”

            Bouwensch kembali memberikan hormat dan bergegas meninggalkan ruangan. Sepeninggal kapten tersebut, Kolonel Von Jett bertanya kepada Danuredjo.

            “Patih, apa yang sudah kamu lakukan?” Von Jett kemudian duduk di atas meja, menghadap Danuredjo yang masih duduk di kursi kayu dekat jendela bersebarangan dengan Smissaert.

            “Saya sudah mempersiapkan semuanya, Tuan Kolonel.          Pasukan kraton sudah berada di posnya masing-masing bersama Legiun dan pasukan Belanda. Selebaran sudah tertempel di mana-mana. Dan sekarang kita tinggal menunggu datangnya pasukan bantuan dari luar Yogya. Mereka semua sudah dalam perjalanan ke sini.”

Minggu, 12 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (26)

Oleh Rizki Ridyasmara


Bab 37

KETAKUTAN MELANDA WARGA EROPA DAN Cina di Yogyakarta dan sekitarnya. Pemberontakan Pangeran Diponegoro yang awalnya sempat dianggap remeh ternyata malah membesar dan meluas. Banyak kepala desa, terutama di wilayah-wilayah perdikan yang banyak terdapat sekolah agama, dengan terang-terangan memihak Diponegoro. Bahkan para kepala desa itu membentuk laskarnya sendiri-sendiri dan mulai mengganggu pos-pos jaga Belanda di sejumlah titik. Sejumlah pasukan kraton juga bergabung dengan Diponegoro dengan membawa serta persenjataan dan kudanya.

Jumat, 10 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (25)

Oleh Rizki Ridyasmara

Bab 34
  
ANGIN ADALAH PRAJURIT ALLAH DI medan perang. Dua orang anggota laskar Mulyo Sentiko yang dikirim ke garis paling depan—sekira duaratusan meter di luar gerbang Desa Lagorok, Pisangan—telah mencium kedatangan pasukan kafir dari arah utara. Angin yang bertiup dari Merapi ke arah Laut Kidul membawa serta bebauan orang-orang kafir tersebut lewat udara, sehingga keberadaan mereka bisa diketahui jauh sebelum sosok mereka terlihat.


            Djauhari serta Djamhadi, dua orang laskar kepercayaan Mulyo Sentiko segera memacu kudanya kembali ke perkemahan induk pasukan yang berada di atas bukit kecil di tepi jalan raya Desa Lagorok.

Jumat, 03 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (23)


Oleh Rizki Ridyasmara


Bab 30
  
DANUREDJO SEPANJANG MALAM TIDAK BERADA di ruangan kerjanya di kraton. Secara khusus Residen Smissaert menyuruhnya untuk membuat selebaran dan memperbanyaknya.
“Patih, kowe cepat bikin pamflet. Umumkan jika Diponegoro itu penjahat yang berbahaya. Siapa pun yang mengikutinya maka mereka akan kita anggap juga sebagai pemberontak dan akan kita hukum seberat-beratnya. Besok pagi pamflet-pamflet itu harus sudah tertempel di banyak tempat strategis di seluruh karesidenan ini!” ujar Smissaert.

Rabu, 01 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (22)


Oleh Rizki Ridyasmara12:54 28/07/2012

“Saya sebagai Panglima Tertinggi Pasukan Pemerintah di Ngayogyakarta Hadiningrat memutuskan tidak akan memberi tambahan pasukan di Tegalredjo dalam waktu cepat. Komandanmu itu harus bertahan dahulu menghadapi para pemberontak di sana dengan sekuat tenaga. Dan tolong sampaikan pada komandanmu itu, mereka harus menulis laporan yang berisi alasan pentingnya bertahan di Puri Tegalredjo padahal target sudah kabur. Mengapa mereka tidak ikut mengejar Diponegoro dan malah mendirikan pos komando di Puri Tegalredjo. Itu saja. Cepat sampaikan dengan utuh!”


            “Siap, Tuan! Saya akan sampaikan semuanya dengan utuh!”
            “Laksanakan!”
            “Siap, laksanakan!”

Senin, 30 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (21)


Oleh Rizki Ridyasmara


Seratusan meter di selatan, Letnan Satu Thierry dan Chevallier masih berada di atas kudanya. Mereka mengawasi penyerbuan dari depan gapura yang sudah sepenuhnya dikuasai pasukan Belanda dan Legiun Mangkunegara. Sejumlah pasukan kawal berada di keliling mereka. Lalu seorang opsir dengan kudanya mendekat.

Sabtu, 28 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (24)


Oleh Rizki Ridyasmara



“Sebentar lagi Kanjeng Pangeran Diponegoro akan menemui Kanjeng Kiai..”


            Belum kering bibir Abdullah mengucapkan kalimat itu, dari arah belakang terdengar derap kaki kuda yang kian lama kian jelas. Pangeran Diponegoro, disertai Mangkubumi, Ki Singalodra, dan Ustadz Taftayani terlihat memacu kudanya ikut menyambut Kiai Modjo. Dari atas kudanya, mereka semua bersalaman dan berpelukan. Kedua pasukan besar itu pun bergabung menjadi satu. Pangeran Diponegoro mengajak Kiai Modjo dan Kiai Ghazali ke bagian depan. Mereka kemudian segera memacu kudanya menuju pelataran yang terletak di bagian bawah Gua Selarong.

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (20)


Setelah mengucapkan kalimat itu, Pangeran Diponegoro bergegas masuk ke dalam bangunan utama Puri Tegalredjo. Seorang prajurit keluar dari masjid untuk mengambil salah satu kuda kesayangan Pangeran Diponegoro dan menambatkannya di depan masjid. Dia sendiri menjaga kuda itu.

Senin, 23 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (19)

Tiba-tiba seorang kurir dari Residen Smissaert datang ke pendopo alun-alun Lor. Dia langsung menemui Patih Danuredjo dan menyerahkan surat dari tuannya. Setelah membuka surat itu, Danuredjo langsung mengakhiri pertemuan dengan para senopati utama kraton dan yang lainnya.

            “Sekarang kalian semua persiapkan pasukanmu masing-masing dengan baik. Dalam waktu dekat kita akan bergerak.”


Minggu, 15 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (18)

Di dalam bilik utama di dalam Puri Tegalredjo, isteri Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih—puteri dari Raden Tumenggung Sumoprawiro, Bupati Jipang Kepadhangan—tengah menidurkan anak-anaknya. Lagu Lir-Ilir mengalun merdu perlahan dari bibirnya yang tipis. Dengan penuh kasih sayang, Raden Ayu Retnaningsih mengusapkan tangannya dengan lembut ke kening anak-anaknya yang baru saja terlelap. Disibakkannya rambut di kening anak-anaknya yang sudah agak panjang menutupi keningnya. Perempuan itu memandangi lekat-lekat wajah mereka. Ada rasa damai yang sangat indah di dalam relung garbanya, di saat dia memandangi wajah-wajah mungil tanpa dosa yang tengah tertidur pulas.


Kamis, 12 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (17)

Di dalam masjid, Diponegoro membuka musyawarah dengan memaparkan perkembangan paling baru dari pergerakan musuh.

            “Dari lapangan, saya mendapatkan informasi jika Residen Yogya dan Patih Danuredjo sedang menyiapkan pasukan yang dipusatkan di kraton. Mereka juga memanggil sejumlah pasukan bantuan, baik dari pasukan pribumi seperti Legiun Mangkunegaran, suku Alifuru, Tidore, Ternate, Buton, maupun dari pasukan reguler kafir Belanda dari Semarang, Magelang, dan Surakarta...”

Selasa, 10 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (16)


Bab 17

MANGKUBUMI BARU SAJA PERGI MENINGGALKAN kraton untuk kembali ke Tegalredjo. Residen Smissaert segera memerintahkan Patih Danuredjo agar menghubungi setiap pasukan lokal yang ada yang telah menyatakan siap untuk bergabung memperkuat pemerintah.

            “Panggil seluruh pasukan bantuan yang sudah siap bergabung dengan kita secepatnya. Terlebih-lebih Legiun Mangkunegaran. Mereka akan tiba terlebih dahulu, bersama dengan pasukan reguler dari Surakarta. Ke sini itu Cuma mereka hanya perlu tiga jam dari Surakarta. Setelah itu baru yang dari Semarang dan lainnya akan datang ke sini.”

Minggu, 08 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (15)

“Ki Sentono, entah apa yang harus saya ucapkan kepadamu. Apa yang sudah Kisanak kerjakan akan sangat berarti bagi kita semua, bagi pemerintahan yang kita sama-sama berada di belakangnya. Aku berjanji, Kisanak akan mendapatkan hadiah dari pemerintah. Dan kapan mereka semua akan bergerak?”

Sabtu, 07 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (14)


Bab 12
  
IKATAN TALI KEKANG KUDA YANG dikendarai Pangeran Mangkubumi agak mengendur. Paman Diponegoro itu melambatkan kecepatan kudanya dan berhenti terlebih dahulu di bawah batang kekar Delonix Regia[1] yang berdaun lebat dengan bunga-bunga merah yang bermekaran di sana-sini. Tak sampai semenit dia sudah mengencangkan ikatan itu. Dengan sekali gebrak, kudanya pun kembali melesat.

Rabu, 04 Juli 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (13)

Ki Singalodra terdiam sejenak. Kemudian dia menjawab, “Mereka telah membunuh anak dan isteriku, Kanjeng Pangeran...”


            Diponegoro menganggukkan kepalanya, “Ya, soal itu saya sudah mendengarnya. Itu saja?”
            “Ya, Kanjeng Pangeran...”
            “Jika demikian, kalau anak dan isterimu tidak dibunuh Belanda, maka Kisanak masih akan membela orang-orang kafir itu?” selidik Diponegoro dengan senyum tulus yang mengembang di sudut bibirnya.

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (12)

Eramuslim.com

Residen Yogyakarta ini kemudian berteriak agar prajurit jaga memanggil Patih Danuredjo, “Panggil itu patih ke sini menghadapku!”


            Suryo Widhuro, sang prajurit penjaga kamar kepatihan, segera menghadap, “Inggih, Tuan Residen.”

"Mama, Jangan Benci Aku"

Kisah ini benar adanya dan saya menulisnya dengan hati yang dalam supaya kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua supaya jangan ter...