Rabu, 15 Agustus 2012

Novel : Untold History of Pangeran Diponegoro (27)


Oleh : Rizki Ridyasmara


“Itu saja, Kapten. Kembalilah kepada pasukanmu dan siapkan mereka dengan baik.”
            “Siap, Kolonel!”

            Bouwensch kembali memberikan hormat dan bergegas meninggalkan ruangan. Sepeninggal kapten tersebut, Kolonel Von Jett bertanya kepada Danuredjo.

            “Patih, apa yang sudah kamu lakukan?” Von Jett kemudian duduk di atas meja, menghadap Danuredjo yang masih duduk di kursi kayu dekat jendela bersebarangan dengan Smissaert.

            “Saya sudah mempersiapkan semuanya, Tuan Kolonel.          Pasukan kraton sudah berada di posnya masing-masing bersama Legiun dan pasukan Belanda. Selebaran sudah tertempel di mana-mana. Dan sekarang kita tinggal menunggu datangnya pasukan bantuan dari luar Yogya. Mereka semua sudah dalam perjalanan ke sini.”



            “Dan untuk pasukan bantuan, apakah hanya dari Tidore dan Madura saja?”
            “Tidak juga, Tuan Kolonel. Jayeng Sekar[1] juga sudah kita minta. Belum lagi dari Mayor Raja Sulaiman dari Buton, laskar Alifuru Tidore, Ternate, dan sejumlah korps para bupati di Jawa. Mereka semua sudah saya minta untuk mengirimkan pasukannya ke sini, selain untuk memperkuat keberadaan mereka di daerahnya masing-masing. Apakah kita juga mau merekrut para relawan?”

            “Maksudmu?”
            Danuredjo terkekeh, “Apakah Tuan lupa dengan sejarah perang salib?”

            Kolonel Von Jett belum memahami apa yang hendak dimaksudkan Patih Danuredjo ini. Keningnya berkerut sambil menatap Danuredjo dalam-dalam.
“Maksudmu?” ujarnya dingin.

“Apa yang dilakukan Paus Urbanus II saat menggelorakan perang salib untuk merebut Yerusalem di dalam Konsili di Clermont tahun 1095?” tanya Danuredjo sedikit bangga karena bisa dengan baik mengingat sebagian isi buku kecil sejarah perang salib yang pernah dibacanya di perpustakaan karesidenan.

Mendengar itu Kolonel Von Jett segera tersadar, “Ya. Ya, aku ingat. Yang kamu maksud merekrut para tahanan untuk dijadikan pasukan, bukan?”

Danuredjo tersenyum kembali. Kepalanya mengangguk-angguk bagaikan boneka-bonekaan khas Yogyakarta yang terbuat dari tanah liat yang dikeringkan dan diberi per di leher bagian dalamnya.

“Betul, Tuan. Ketika merekrut pasukan untuk mendukung penyerangan ke Yerusalem, selain mengerahkan pasukan gereja dan pasukan reguler utusan kerajaan-kerajaan Eropa, Paus juga menyerukan para kriminal dan penjahat yang memenuhi berbagai penjara di Eropa agar bergabung dengan pasukannya...”

“Dan supaya para kriminal itu mau bergabung, Paus akan menghapus semua dosa mereka dan menjanjikannya surga. Demikian bukan?”

Danuredjo terkekeh, “He..he..he.., ya, ya benar. Tuan Kolonel juga membaca sejarah perang salib rupanya.”

Residen Smissaert  menggerutu dalam hati. Dia benar-benar tidak menyukai gaya Danuredjo yang menurutnya terlalu lebay. Tertawa Danuredjo yang dibuat-buat itu malah menimbulkan kekesalan di hatinya. Namun Smissaert tertawa dalam hati. Kolonel Von Jett ternyata tidak ikut tertawa sedikit pun. Tersenyum pun tidak. Sehingga semua itu membuat Danuredjo tahu diri dan dengan teratur menghentikan tawanya dan kembali memasang topeng wajah serius.

“Patih...”
“Ya, Tuan Kolonel.”

“Kowe sekarang rekrut para relawan. Kowe harus bisa kosongkan penjara-penjara yang ada di wilayah ini, dan mengubah para tahanan yang kuat secara fisik untuk dijadikan anggota pasukan yang tangguh yang dapat menghancurkan pemberontak itu...”

Danuredjo hendak menyela. Dia agaknya tidak begitu setuju jika dirinyalah yang harus melaksanakan tugas ini. Namun Kolonel Von Jett tidak memberikan kesempatan.

“Kowe harus bisa. Dan saya tidak mau mendengar alasan apa pun. Laksanakan saja.”      
Smissaert tersenyum dikulum. Beda dengan Danuredjo yang hanya bisa menundukkan kepala menatap lantai lekat-lekat sambil menggerutu dalam hati. Entah apa yang ada di dalam benaknya. []
            
Bab 38
  
UNTUK MEMPERKUAT PERTAHANAN DI SEKITAR SELARONG, Pangeran Ngabehi dan sesepuh yang lain telah memerintahkan agar semua akses jalan menuju dan dari Selarong diberi berbagai jebakan dan blokade. Di berbagai tempat strategis, namun tersembunyi sehingga tidak diketahui banyak orang, didirikan pos pengintaian. Bahkan sejumlah laskar diperintahkan agar berbaur dengan warga sekitar dan turut membantu meringankan hidup keseharian mereka dimana pasokan beberapa kebutuhan pokok mulai disabotase Belanda dan pihak Danuredjo.

            Hampir setiap jam, Pangeran Ngabehi dan Mangkubumi menerima kedatangan pasukan telik-sandi yang melaporkan perkembangan terbaru dari lapangan, dan juga para utusan laskar-laskar dari berbagai daerah yang baru saja terbentuk untuk mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. Ada yang dari Semarang, Kedu, Banyumas, Pacitan, Magelang, Wonosari, dan sebagainya. Mereka semuanya melaporkan jika di semua daerah, rakyat telah bangkit dan menyusun barisannya sendiri-sendiri untuk ikut berjuang mengusir kaum penjajah kafir Belanda dari Bumi Mataram dan mengembalikan kewibawaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah dicemari Danuredjo dan kawan-kawannya.

            Kepada mereka, Pangeran Ngabehi dan Diponegoro hanya berpesan agar kebangkitan perjuangan bersenjata melawan kafir Belanda semata-mata diniatkan demi tegaknya agama Allah di Bumi Mataram. “Islam itu agama yang adil dan membebaskan. Janganlah berbuat zalim, bahkan terhadap musuhmu sekali pun,” tulis Diponegoro di dalam setiap suratnya yang disampaikan kepada para laskar yang bangkit di berbagai daerah.

            Sore itu setelah Asar, Akhmad Prawiro—kurir khusus yang sering mengantarkan surat-surat Diponegoro ke kraton—bergegas menaiki ratusan anak tangga menuju Gua Kakung tempat Pangeran Diponegoro dan para sesepuh lainnya berkumpul. Akhmad Prawiro tidak sendirian. Di belakangnya, Ki Singalodra mengawal. (Bersambung)

[1] Jayeng Sekar merupakan pasukan yang dibentuk oleh Daendels yang direkrut dari putera keluarga kaya di Jawa yang bekerja sebagai polisi. Anggota pasukan ini kebanyakan putera keluarga pengusaha, bangsawan, pejabat kraton, dan sebagainya. Mereka terlatih dengan baik dan digaji lumayan besar ketimbang pasukan reguler lainnya, dan ditugaskan di sejumlah karesidenan

"Mama, Jangan Benci Aku"

Kisah ini benar adanya dan saya menulisnya dengan hati yang dalam supaya kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua supaya jangan ter...