Operasi Caesar


Pengertian


Sectio caesar adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. Ada tiga teknik sectio caesar, yaitu transperitonealis, corporal (klasik), dan ekstraperitoneal. Sectio caesar adalah lahirnya janin, plasenta dan selaput ketuban melalui irisan yang dibuat pada dinding perut dan rahim .


Sectio caesar (operasi caesar) berkembang sejak akhir abad ke-19 sampai tiga dekade terakhir pada abad ke-20. Selama periode itu terjadi penurunan angka kematian ibu dari 100 persen menjadi 2 persen. Bedah caesar pertama kali disebut sebagai cara melahirkan bayi dalam dunia kedokteran di tahun 1794.
(www.republika.co.id/koran)






Kelahiran Caesar adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparotomy) dan dinding uterus (Histerotomy).(Smeltzer,Suzanne,C,1999). Suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat labih dari 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (intact). (AB. Saifudin, et.al, 2002)


Operasi Caesar atau sectio caesaria adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi. Operasi ini dilakukan ketika proses persalinan normal melalui ‘jalan lahir’ tidak memungkinkan karena komplikasi medis. Operasi ini biasanya dilakukan tim yang melibatkan spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anestesi, dan bidan.


Dalam Operasi Caesar, ada tujuh lapisan yang diiris pisau bedah, yaitu lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot, otot perut, lapisan dalam perut, lapisan luar rahim, dan rahim. Setelah bayi dikeluarkan, lapisan itu kemudian dijahit lagi satu per satu, sehingga jahitannya berlapis-lapis.


Istilah Caesar umumnya dirujuk pada tiga sumber. Pertama, dari kata kerja bahasa Latin yaitu caedere yang berarti membedah. Kedua, dari nama pemimpin Romawi, Julius Caesar. Konon dia dilahirkan dengan metode tersebut. Namun hal itu diduga musykil karena ibu Julius tetap hidup sampai Julius dewasa, padahal teknologi saat itu belum memungkinkan operasi Caesar. Ketiga, diambil dari lex caesarea, istilah hukum Romawi yang mengatur prosedur pembedahan ibu hamil yang meninggal untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. (www.republika.co.id/koran)


Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 1991).






Operasi sectio Caesarea seperti disahkan dari beberapa buku dilaksanakan bertujuan untuk menjaga kehidupan atau kesehatan ibu dan janinnya, sementara itu penggunaan cara caesarea adalah didasarkan bukti adanya stres maternal atau fetal.


 Indikasi Sectio Caesarea


Sectio Caesarea digunakan atas indikasi adanya keyakinan bahwa penundaan persalinan yang lebih lama akan menimbulkan bahaya yang srius bagi janin maupun ibunya, atau kedua- duanya (Mochtar Rustam,1998) selain itu sebagai indikasi Caesarea adalah:
1.      Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
2.      Panggul sempit


         Holmer mengambil batas terendah untuk melahirkan janin vias naturalis ialah CV = 8cm.    Panggul dengan CV= 8cm dapat dipastikan tidak dapat melahirkan janin yang normal, harus diselesaikan dengan sectio caesarea . CV antara 8- 10 cm boleh dicoba dengan partus percobaan, baru setelah gagal dilakukan sectio caesarea sekunder.


3.      Disproporsi sefalo- pelvik : yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan panggul.
4.      Ruptura uteri mengancam
5.      Partus lama (prolonged labor)
6.      Partus tak maju (obstructed labor)
7.      Distosia serviks
8.      Pre- eklampsi dan hipertensi
9.      Malpresentasi janin(Mochtar Rustam,1998)
10.  Hidrocepalus
11.  Bayi besar (macrosomia) (www.republika.co.id/koran)


 Istilah


-Sectio caesarea primer (efektif)
Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara sectio caesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit (CV  kurang dari 8 cm).


-Sectio caesarea sekunder
Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan), bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan sektio caesarea.


-Sectio caesarea ulang (repeat caesarean section)
Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami sectio caesarea dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan sectio caesarea ulang.


-Sectio caesarea histerektomi (caesarean section hysterctomy)
Adlah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan sectio caesarea, langsung dilakukan hysterktomy oleh karena suatu indikasi.


-Operasi Porro (Porro operation)
Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin sudah mati), dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya pada keadaan infeksi rahim yang berat. Sectio caesarea oleh ahli kebidanan disebut obstetric panacea, yaitu obat atau terapi ampuh dari semua masalah obstetri. (Mochtar Rustam,1998)




Teknik Pembedahan Sectio Caesarea
Berdasarkan tipe pembedahan, ada 2 pembdahan yang biasanya dilakukan bila terjadi operasi sectio caesarea, yaitu:


1.      Caesarea klasik
Adalah operasi dengan melakuakan insisi vertikal ke dalam bagian tubuh atas uterus. Hal ini jarang dilakukan kecuali bila ada insiden perdarahan, infeksi atau rupture uterus yang lebih tinggi dari pada kelahiran dan pada beberapa kasus presentasi bahu dan plasenta previa.


2.      Caesarea Segmen Bawah Rahim
Operasi ini dapat juga dilakukan melalui insisi vertikel (Sell Helm) atau insisi tranversal / memotong (Ker) dan insisi horizontal pada kulit dan uterus.
Sectio caesarea menurut Mochtar, Rustam (1998) dapat dilakukan melalui 2 macam cara yaitu melalui abdomen fdan vagina. Sectio caesarea melalui abdomen disebut sectiocaesarea abdominalis , dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu transperitonealis dan ekstraperitonealis.


·        Sectio caesarea transperitonealis 
yaitu pembedahan denagn cara membuka peritonium parietalis dengan sayatan korporal atau klasik yaitu sayatan memanjang pada korpus uteri dan dapat juga dengan sayatan propunda atau ismika, yaitu sayatan pada segmen bawah rahim.


·        Sectio caesarea ekstraperitonealis 
adalah sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis sehingga tidak membuka kavum abdominalis. 
Menurut sayatannya pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
a.       Sayatan memanjang (Longitudinal) menurut kroning
b.      Sayatan melintang (transversal)
c.       Sayatan huruf T (T incision)


 Keuntungan dan Kerugian Sectio Caesarea
Menurut dr M Nur Rasyid SpB, operasi caesar akan memberikan keuntungan kepada ibu yang melahirkan. Seperti menghindari rasa sakit yang dialami secara normal. Selain itu ibu bisa memilih tanggal untuk melahirkan bayinya. Biasanya ada beberapa ibu yang memilih caesar agar bisa melahirkan bayinya pada tanggal-tanggal tertentu yang dianggap bisa membawa hoki.
Keuntungan lainnya adalah bisa menyelamatkan nyawa bayi dan ibunya jika kondisi salah satunya bermasalah. Apabila tidak dilakukan caesar bisa mengakibatkan kematian pada bayi tersebut.


Sedangakan kerugiannya pada operasi caesar yang direncanakan angka komplikasinya kurang lebih 4,2 persen. Sedangkan untuk operasi caesar darurat (sectio caesar emergency) berangka kurang lebih 19 persen. Setiap tindakan operasi caesar memiliki tingkat kesulitan berbeda-beda. Pada operasi kasus persalinan macet dengan kedudukan kepala janin pada akhir jalan lahir misalnya, sering terjadi cedera pada rahim bagian bawah atau cedera pada kandung kemih (robek).


Sedangkan pada kasus bekas operasi sebelumnya dimana dapat ditemukan perlekatan organ dalam panggul sering menyulitkan saat mengeluarkan bayi dan dapat pula menyebabkan cedera pada kandung kemih dan usus. Selain berbahaya bagi ibu persalinan dengan sectio caesar ternyata juga berpengaruh terhadap perkembangan imunitas atau daya tahan tubuh bayi yang dilahirkan. Hal ini didasarkan pada penelitian di luar negeri yang menunjukkan bahwa bayi lahir melalui proses caesar memiliki risiko lebih tinggi mengidap penyakit seperti diare, asma, dan alergi. 


Hal ini terjadi karena bayi melalui bedah caesar membutuhkan waktu lebih lama, yakni sekitar enam bulan, untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi lahir normal. Alasan-alasan yang menyebabkan semakin meningkatnya persentase persalinan dengan sectio caesar saat ini cukup kompleks.


 Di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, bahwa keputusan ibu hamil untuk melahirkan dengan sectio caesar walau tidak memiliki indikasi medis paling banyak disebabkan oleh adanya ketakutan menghadapi persalinan normal atau yang lebih dikenal sebagai rasa takut akan kelahiran.


Berdasarkan teknik pembedahannya, operasi sectio caesarea mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :
Pada sectio caesarea korporal atau klasik, dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri.
Kelebihannya :
1.      Mengeluarkan janin lebih cepat
2.      Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
3.      Sayatanbisa  perpanjang proksimal atau distal


Kekurangan :
1.      Infeksi mudah menyebar
2.      Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptur uteri spontan
3.      Sectio caesarea ismika (propunda ) dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim


Melintang konkaf pada segmen bawah rahim
Kelebihannya :
1.      Penjahitan luka lebih mudah
2.      Penutupan luka dengan baik
3.      Perdarahan kurang
4.      Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan lebih kecil


Kekurangannya:
1.      Luka dapat melebar ke kiri, kanan dan ke bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uterina putus yang dapat menyebabkan perdarahan yang banyak.
2.      Keluhan pada kandung kemih post operasi lebih tinggi




Jenis Seectio Caesarea


Ada pertimbangan- pertimbangan tertentu untuk melakuakan caesarea, maka berdasarkan pertimbangan tersebut  dikenal rencana operasi yang dapat dikategorikan pada jenis sectio caesarea yaitu :


1.      Sectio Caesarea Efektif (direncanakan )


Adanya pengalaman kegagalan melahirkan secara tradisional yaitu sppontan pervaginam memiliki dampak negatif ada konsep diri wanita sehingga wanita memutuskan untuk melahirkan melalui sectio caesarea, selain itu jenis ini juga digunakan sebagai unsur estetika bagi wanita untuk menjaga keutuhan jalan lahir. (Bobak, Jensen 2005)
Dalam Farrer 2001, Sctio Caesarea efektif dapat juga dilakukan kalau sebelumnya sudah diperkirakan bahwa kelahiran pervaginam yang normal tidak cocok atau tifdak aman yang dapat disebabkan karena :
a.       Plasenta previa
b.      Letak janin yang stabil dan tidak bisa dikoreksi
c.       Riwayat obstetrik yang jelek
d.      Disproporsi sevalopelvik (CPD)
e.       Infeksi herpes virus type II (Genital)
f.        Riwayat Sectio Caesarea klasik
g.       Diabetes (kadang- kadang)
h.       Presentasi bokong (kadang- kadang)
i.         Penyakit atau kelainan yang berat pada janin, seperti eritroblastosis atau retardasi pertumbuhan yang nyata


2.      Sectio caesarea emergency. 


Sectio caesarea emergency biasanya dilakukan dengan    indikasi :
a.       Induksi persalinan yang gagal
b.      Kegagalan dalam kemajuan persalinan
c.       Penyakit fetal atau maternal
d.      Diabetes atau pre eklampsia yang berat
e.       Persalinan yang macet
f.        Prolapsus funukuli
g.        Perdarahan hebat dalam persalinan
h.       Tipe tertentu malpresentasi  janin dalam persalinan


Komplikasi Sectio caesarea
 Kelahiran caesarea bukanlah tanpa komplikasi baik bagi ibu maupun janin yaitu:
1.      Komplikasi ibu
2.      Aspirasi emboli pulmonary
3.      Infeksi luka / luka terbuka
4.      Thromboplebitis
5.      Perdarahan
6.      Infeksi saluran urine
7.      Komplikasi akibat anestesi
8.      Komplikasi janin
9.      Prematur
          Prematur akan terjadi bila tidak cepat dalam menilai usia kehamilan dan faktor- faktor          seperti plasnta previa.
10. Cidera janin


menimbulkan :
a.       Infeksi puerperial (nifas)
b.      Perdarahan dan luka kandung kemih akibat sayatan sewaktu operasi


PERSIAPAN OPERASI SECTIO CAESAREA
1.      Persiapan tempat


Pastikan bahwa :
a.       ruang yang hangat dan bersih
b.      Air bersih dan mengalir
c.       Air DTT atau larutan klorin
d.      Tempat tidur yang bersih
e.       Penerangan yang cukup
f.        Meja atau troli untuk menaruh peralatan


2.      Persiapan alat
a.       Mulai dan akhiri tindakan dengan menghitung instrumen, alat- alat tajam, dan kasa :
-Lakukan penghitungan setiap ruang tubuh
-Catat pada rekam medis dan cocokkan sampai sesuai
b. Memakai alat- alat tajam harus memperlihatkan “zona aman” juga pada waktu saling memindahkan / memberikan:
 -pergunakan bengkok untuk memberikan / menerima alat- alat tajam, atau
 -cara memberikan dengan ujung yang tumpul pad si  penerima


 c. Sesuaikan dengan prosedur tetap peralatan yang akan digunakan (Saifudin,dkk,2002)


Menurut Manuaba (1998) Persiapan alat operasi kebidanan tergantung dari jenis tindakan dengan memperhitungkan:
- Berdasarkan indikasi
- Berdasarkan keadaan (kondisi) penderita
 - Tindakan yang paling tringan dan aman
 - Penyulit operasi


3.Persiapan penolong


a. Masker
b. Scort/ celemek
c. Kacamata
d. Alas kaki tertutup/ sepatu boot
e. Cuci tangan
         1. Lepaskan semua perhiasan
         2. Angkat tangna lebih tinggi dari siku, basahi tangan dan merata dan pakai kllorheksisin, hibiskum, atau sabun.
         3. Mulai dari ujung jari dengan gerakan sirkuler kenakan seluruh busanya dan cuci: antara semua jari sela- sela dan telapak tangan, dari ujung jari, yang satu selesaikan sampai siku, baru pindah ke tangan yang lain
         4. Basuh tangan satu per satu secara terpisah, mulai dari ujung jari dan pertahankan tangan di atas siku terus menerus
         5. Cuci tangan selama 3- 5 menit
         6. Pergunakan handuk kecil steril setiap tangan. Usap dari ujung jari ke siku.
         7. Pastikan setelah cuci tangan tidak terkena kontka dengan objek objek yang tidak steril/ DTT. Jika kontak langsung ulang cuci tangan dari awal.


Persiapan Pasien
a.       Terangkan prosedur yang akan dilakukan pada pasien. Jika pasien tak sadar terangkan pada keluarganya.
b.      Dapatkan persetujuan tindakan medis
c.       Bantu dan usahakan pasien dan keluarganya siap secara mental
d.      Cek kemungkinan alergi dan riwayat medis lain yang diperlukan
e.       Siap contoh darah untuk pemeriksaan hemoglobin dan golongna darah. Jika diperkirakan lapangan insisi dengan sabun dan air.
f.        Cuci dan bersihkan lapangan insisi dengan sabun dan air.
g.       Jangnlah mencukur rambut pubis karena hal ini dapat menambah resiko infeksi luka. Rambut pubis hanya dipotong/ dipendekkan kalau diperlukan.
h.       Pantau dan catat tanda vital (tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu)
i.         Berikan premedikasi yang sesuai
j.        Berikan antasid untuk mengurangi keasaman lambung (sodium sitrat 0,3% atau Mg trisilikat 300 mg)
k.      Pasang kateter dan pantau oengeluaran urin
l.         Pastikan semua informasi sudah disampaikan pada seluruh tim bedah
(Saifudin,dkk,2002)
             
ANALGESI SPINAL


Analgesi spinal (intratekal, intradural, subdural, subaraknoid) ialah pemberian anestetik local ke dalam ruang subaraknoid. Anestesi spinal diperoleh dengan cara mwnyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang sub araknoid. Teknik ini sederhana, cukup efektif dan mudah dikerjakan.


Indikasi
1.Bedah ekstremitas bawah
2.Bedah panggul
3.Tindakan sekitar rectum- perineum
4.Bedah obstetric- ginekologi
5.Bedah urologi
6.Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatric biasnya dikombinasi dengan anestesi umum ringan.


Indikasi kontra absolute
1.Pasien menolak
2. Infeksi pada temp[at suntikan
3.Hipovolemia berat, syok
4. Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan
Tekanan intracranial meninggi
Fasilitas resusitasi minim
kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anestesi


Indikasi kontra relative
1.      Infeksi sistemik
2.      Infeksi sekitar tempat suntikan
3.      Kelainan neurologist
4.      Kelainan psikis
5.      Bedah lama
6.      Penyakit jantung
7.      Hipovolemia ringan
8.      Nyeri punggung kronis


Persiapan analgesia spinal


Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada anesthesia umum.Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan antomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan hal- hal di bawah ini :
Informed consent (izin dari pasien)
Kita tidak boleh memaksa pasiuen untuk menyetujui anestesi spinal.
Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung dan lain- lainnya.
Pemeriksaan laboratorium anjuran
Hemoglobin, hematokrit, PT (prothrombin time) dan PTT (partial thromboplastine time.


sumber : ners-blog.blogspot.com

Postingan populer dari blog ini

Penyakit Cacing Kulit atau CUTANEOUS LARVA MIGRAN “CREEPING ERUPTION”

Sarden Kalengan yang Paling Gurih dan Enak?

Penyakit Kista dan Ciri-ciri Orang terkena Penyakit Kista