Guna Puasa Sebelum Operasi


Anestesi secara umum sering menimbulkan resiko mual dan muntah saat
digunakan. Hal ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius dan berakibat fatal.
Meniadakan pemasukan apapun melalui oral selama 4-6 jam sebelum operasi
perlu dilakukan untuk mengatasi hal tersebut (O’ Callaghan, 2002)



Asuhan keperawatan perioperatif meliputi asuhan keperawatan yang diberikan sebelum (preoperatif), selama (intraoperatif), dan setelah pembedahan (postoperatif). Keperawatan perioperatif dilakukan berdasarkan proses keperawatan dan perawat perlu menetapkan strategi yang sesuai dengan
kebutuhan individu selama periode perioperatif sehingga pasien memperoleh kemudahan sejak datang sampai pasien sehat kembali (Potter et al., 2006).


Fase praoperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan klinik atau di rumah, menjalankan wawancara praoperatif, dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan dan pembedahan (Brunner et
al., 2002). 
Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam . Minuman bening, air putih, teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas diberikan 1 jam sebelum induksi anestesi (Latief et al., 2002).

Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke bagian atau departemen bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.
Sedangkan untuk fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah (Brunner et al., 2002).

Puasa Sebelum Pembedahan

Periode puasa sebelum pemberian anestesi pada pembedahan sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya aspirasi dari isi lambung yang dapat menimbulkan bahaya yang fatal. Itulah yang menjadi alasan pada banyak praktek klinik untuk mempuasakan pasien dari makanan padat dan cairan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pasien yang menjalani puasa sebelum operasi mungkin
akan menerima efek dari periode puasa ini, tergantung status kesehatan mereka
sebelum puasa (Jester, dan William., 1999)

Puasa preoperatif dimulai sejak tengah malam, padahal puasa yang lama belum tentu dapat memberikan manfaat klinik saat penggunaan anestesi.
Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan manfaat dari puasa yang pendek.
Puasa yang pendek dianggap sudah cukup untuk memastikan pengosongan lambung dan
menurunkan resiko dari aspirasi paru-paru. Pemberian cairan bening secara oral 2
jam sebelum pemberian anestesi tidak memberikan efek yang merugikan pada isi
lambung. Pemberian cairan tersebut juga bermanfaat dalam meningkatkan
kenyamanan pasien dengan mengurangi rasa haus, dengan demikian pemberian
secara peroral pun dapat meningkat.

ASA (American Society of Anesthesiologists) merekomendasikan untuk menggunakan waktu puasa yang pendek untuk pasien bedah, tergantung dari tipe pencernaan masing-masing pasien. Bagaimanapun hasil dari penggunaan puasa yang pendek dapat mencegah aspirasi dan  kemungkinan komplikasi yang terjadi pada periode postoperasi (Shime et al.,2005).

 Penelitian klinik dilakukan pada pasien dewasa di rumah sakit Foothills, menegaskan bahwa pemasukan 150 ml air secara oral 2-3 jam sebelum jadwal pembedahan tidak menunjukkan efek klinik yang penting pada volume atau pH lambung, petunjuk puasa untuk pasien rawat jalan melarang makanan padat tetapi mengizinkan pemasukan cairan bening (Connolly dan Cunningham, 2000).

American Society of Anesthesiologist Task Force tahun 1999 mempublikasikan petunjuk preoperasi, mereka merekomendasikan puasa yang tepat untuk cairan peroral selama 2 jam sebelum penggunaan anestesi atau memonitor penggunaan anestesi pada pasien dewasa. Puasa yang rasional sebelum operasi dapat mengurangi resiko gangguan penyumbatan dan aspirasi dari cairan
pencernaan pada pasien selama pengaruh anestesi (Connolly dan Cunningham, 2000).

Puasa Untuk Cairan

Penelitian yang dilakukan oleh Maltby et al tahun 1986 dengan 140 peserta yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1 diberi 150 ml air dengan placebo 2 ½ jam sebelum operasi. Kelompok kedua diberi 150 ml air dengan Hantagonis ranitidine 2 ½ jam sebelum operasi untuk melihat ada tidaknya
perbedaan pada volume lambung jika H2 antagonis diberikan sebelum operasi.

Kelompok ke 3 dan ke 4 tidak diberi air sebelum operasi, kecuali 10ml air 2 ½ jam sebelum operasi digunakan untuk membantu menelan ranitidine pada kelompok 3 dan placebo pada kelompok 4. Semua peserta diberi bromosulphtalein sebagai penanda untuk menelan. Hasilnya adalah dengan penambahan air meningkatkan tekanan gradien antara lambung dan usus yang dapat menstimulasi
laju peningkatan pengosongan lambung (Maltby et al., 1986 cit Dean et al.,2002).

Penemuan yang sama juga diperoleh pada penelitian yang dilakukan Scarr et al 1989. Total 211 pasien dibagi menjadi 4 kelompok: kelompok 1 puasa cairan kurang dari 3 jam, kelompok 2 puasa 3-5 jam, kelompok 3 puasa 5-8 jam dan kelompok 4 tidak menerima apapun dari tengah malam. Hasilnya tidak ada perbedaan yang significan antara volume dan pH lambung pada tiap kelompok.

Kedua penelitian ini mendukung pernyataan bahwa lamanya puasa untuk cairan tidak diperlukan untuk menurunkan residu di lambung. Keuntungan dari peningkatan konsumsi cairan pada waktu preoperatif seperti yang diharapkan, sebuah evidence menyebutkan bahwa yang memiliki interval waktu yang pendek antara pemberian cairan dan waktu operasi rasa haus pada pasien menjadi
berkurang daripada yang mempunyai interval waktu yang lama. Penurunan waktu puasa cairan bisa meningkatkan insiden dari mual muntah setelah operasi (Scare et al., 1989 cit Dean et al., 2002).

Penelitian yang dilakukan oleh Smith et al, 1997 yang membagi 2 kelompok, kelompok 1 pasien secara bebas diberi air sampai 2 jam sebelum operasi, hanya 18% yang mengalami muntah dibandingkan dengan 35% dari kelompok 2 yang dipuasakan secara konvensional. Hampir tidak ada perbedaan antara 2 kelompok tersebut dalam merasakan mual. Hal ini mungkin dikarenakan
kelompok 1 tidak segera minum setelah operasi sehingga dapat memicu muntah.

Ini membuktikan bahwa peningkatan waktu puasa dapat menyebabkan mual sebelum operasi sampai periode setelah operasi (Smith et al, 1997 cit Dean et al., 2002).

Puasa Untuk Makanan Padat

Kenyataannya saat ini pasien selalu puasa lebih lama dari yang direkomendasikan oleh guidelines Perioperative fasting in adult and children 2005 bahwa pasien boleh diberikan makanan padat 6 jam sebelum pemberian anestesi, dan boleh diberikan cairan 2 jam sebelum pemberian anestesi. Percobaan terkontrol secara acak dalam skala kecil menggambarkan bagaimana kelompok
pasien yang diberikan sepotong roti sebelum tidur dan 1 cangkir teh 2-3 jam sebelum operasi tidak menunjukkan pebedaan volume lambung yang signifikan ataupun pH ketika isi lambung dikeluarkan dibanding dengan grup kontrol yang puasa semalam (Miller et al., 1983 cit Dean et al., 2000)

Sutherland et al (1986) menemukan bahwa puasa cairan dan makanan lebih dari 4 jam tidak diperbolehkan untuk volume lambung yang sedikit dan volume dan pH lambung yang kecil. Lambung secara normal akan memproduksi asam lambung selama periode puasa. Berdasarkan penelitiannya, 1 kelompok dipuasakan semalam dan kelompok lainnya dalam waktu yang pendek. 
Hasilnya tidak ada efek yang positif bila digunakan puasa yang lebih lama. Kelompok 1 mengalami peristiwa mual yang lebih tinggi (Sutherland et al., 1986 cit Dean et al., 2002).

Keuntungan Mengurangi Waktu Puasa

Bird (2000) meneliti binatang yang menunjukkan bahwa meskipun puasa selama 6-8 jam, kurang dari lama rerata puasa preoperatif, dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menanggulangi stres, tekanan seperti infeksi atau kehilangan darah yang keduanya merupakan masalah dari operasi. Hasil
penelitian Bird juga mengindikasikan bahwa pasien yang diberi minuman gula sebelum operasi, menerima waktu perawatan yang lebih pendek di Rumah Sakit.
Pasien yang diberi minuman glukosa juga dilaporkan tidak merasa haus, lapar dan lemas dibandingkan dengan pasien yang puasa (Bird, 2000 cit Dean et al., 2002).

Masalah pada Waktu Puasa yang Lama

Penelitian yang dilakukan Rowe, 2000 menggambarkan ketika pasien dipuasakan pada periode yang lama tubuh akan kehilangan cadangan makanan untuk melakukan proses katabolisme yang mengakibatkan menurunnya kekuatan pasien dan kekurangan energi untuk masa penyembuhan setelah operasi dan juga dapat menyebabkan hipoglikemia dan ketosis. Persiapan pengosongan lambung yang tidak tepat sebelum dilakukan operasi gastrointestinal dapat menyebabkan
diare yang parah, keadaan yang lebih buruk menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (Rowe, 2000 cit Dean et al., 2002)

Cuplikan dari Dewi Indah S. (Surakarta)

Postingan populer dari blog ini

Penyakit Cacing Kulit atau CUTANEOUS LARVA MIGRAN “CREEPING ERUPTION”

Penyakit Kista dan Ciri-ciri Orang terkena Penyakit Kista

Sarden Kalengan yang Paling Gurih dan Enak?