Minggu, 08 April 2012

Operasi Amandel


Operasi Amandel atau Tonsilektomi : Komplikasi dan Kontroversi Indikasi
Kapan Harus Dilakukan Operasi Amandel atau Tonsilektomi

Seringkali orangtua bingung dalam menghadapi anak yang diadviskan untuk operasi amandel atau tonsilektomi. Bingung karena seringkali terjadi perbedaan pendapat antara pendapat dokter anak yang seringkali mengadviskan untuk menunda operasi karena berbagai alasan medis tetapi sebaliknya pendapat dokter THT untuk segera melakukan operasi amandel segera karena berbagai alasan medis yang lain.


Kondisi ini wajar terjadi dalam setiap keputusan dan tindakan dokter seringkali banyak kasus terjadi perbedaan pendapat. Karena setiap kasus berlatar belakang kondisi yang berbeda. Dalam melakukan tindakan medis dokter selalu memakai indikasi medis dengan rujukan evidance base medicine (Kejadian Ilmiah berbasis Bukti atau berdasar penelitian), kondisi pasien dan kepentingan pasien. Menjadi tidak wajar apabila dalam tindakan medis bukan demi kepentingan pasien tetapi demi kepentingan individu dokter. Seharusnya perbedaan pendapat tersebut harus dikomunikasikan antara dokter anak dan dokter THT dengan baik. Kalau perlu antara dokter anak dan dokter THT melakukan komunikasi langsung baik lewat surat atau lewat kontak langsung. Namun hal ini seringkali tidak dilakukan, yang terjadi malahan kedua pihak saling menyalahkan. Dokter Anak menganggap dokter THT terburu-buru dalam melakukan tindakan operasi, tetapi sebaliknya dokter THT bahkan ada yang mengatakan bahwa sebaiknya dokter anak harus sering mengikuti seminar tentang ilmu THT. Fakta ini benar-benar seringkali terjadi, justru malah merugikan pasien dan dokter saling mendiskriditkan.



Seringkali terjadi pada penderita Alergi.


Pada penderita alergi seringkali mengalami infeksi berulang karena bila alergi tidak dikendalikan akanmengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan mudah terserang infekasi saluran naas khususnya tonsilitis atau amandel. Bila infeksi batuk, pilek atau demam seringkali berulang setiap bulan atau bahkan sebulan dua kali, maka akibat yang paling sering terjadi adalah tonsil membesar atau yang seringkali disebut amandel hingga mengganggu pernapasan dan gangguan tidur.


Pada banyak kasus, saat alergi dikendalikan maka daya tahan tubuh membaik sehingga resiko untuk terjadi infeksi saluran anapas atas baik berupa batuk, pilek, demam (infeksi tenggorok, tonsilitis dan sebagainya) akan semakin berkurang. Sebaliknya bila alergi sulit dikendalikan maka infeksi berulang akan seriung terjadi mengakibatkan salah satunya tonsil membesar (amandel), resiko sinuitis meningkat dan resiko otitis media juga meningkat.


Tonsilitis atau Penyakit Amandel


Tonsilitis atau kalangan masyarakat awam menyebut dengan istilah penyakit Amandel.  Tonsillitis adalah infeksi (radang) tonsil (amandel) yang pada umumnya disebabkan oleh mikro-organisme (bakteri dan virus). Terbanyak dialami oleh anak usia 5-15 tahun. Tonsillitis, berdasarkan waktu berlangsungnya (lamanya) penyakit, terbagi menjadi 2, yakni Tonsilitis akut dan Tonsilitis kronis.


Dikategorikan Tonsilitis akut jika penyakit (keluhan) berlangsung kurang dari 3 minggu. Sedangkan Tonsilitis kronis jika infeksi terjadi 7 kali atau lebih dalam 1 tahun, atau 5 kali selama 2 tahun, atau 3 kali dalam 1 tahun secara berturutan selama 3 tahun. Adakalanya terdapat perbedaan penggolongan kategori Tonsilitis akut dan Tonsilitis kronis.


Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil/mandel/amandel. Operasi ini merupakan operasi THT-KL yang paling sering dilakukan pada anak-anak. Para ahli belum sepenuhnya sependapat tentang indikasi tentang tonsilektomi, namun sebagian besar membagi alasan (indikasi) tonsilektomi menjadi:  Indikasi absolut dan Indikasi relatif.


Tonsilektomi merupakan pembedahan yang paling banyak dan biasa dilakukan di bagian THT (Telinga, Hidung dan Teng-
gorok), oleh karena itu sering dianggap sebagai pembedahan kecil saja. Tetapi bagaimanapun juga, tonsilektomi adalah suatu pembedahan yang merupakan tindakan manipulasi yang dapat menimbulkan trauma dengan risiko kerusakan jaringan. Komplikasi mulai dari yang ringan bahkan sampai mengancam kematian atau gejala subyektif pada pasien berupa rasa nyeri pasca bedah dapat saja terjadi.


GEJALA DAN TANDA


Keluhan yang dapat dialami penderita Tonsilllitis, antara lain:


Tengorokan terasa kering, atau rasa mengganjal di tenggorokan (leher)
Nyeri saat menelan (nelan ludah ataupun makanan dan minuman) sehingga menjadi malas makan.
Nyeri dapat menjalar ke sekitar leher dan telinga.
Demam, sakit kepala, kadang menggigil, lemas, nyeri otot.
Dapat disertai batuk, pilek, suara serak, mulut berbau, mual, kadang nyeri perut, pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar limfe) di sekitar leher.
Adakalanya penderita tonsilitis (kronis) mendengkur saat tidur (terutama jika disertai pembesaran kelenjar adenoid (kelenjar yang berada di dinding bagian belakang antara tenggorokan dan rongga hidung).
Pada pemeriksaan, dijumpai pembesaran tonsil (amandel), berwarna merah, kadang dijumpai bercak putih (eksudat) pada permukaan tonsil, warna merah yang menandakan peradangan di sekitar tonsil dan tenggorokan.
Tentu tidak semua keluhan dan tanda di atas diborong oleh satu orang penderita. Hal ini karena keluhan bersifat individual dan kebanyakan para orang tua atau penderita akan ke dokter ketika mengalami keluhan demam dan nyeri telan.


PENCEGAHAN


Tak ada cara khusus untuk mencegah infeksi tonsil (amandel). Secara umum disebutkan bahwa pencegahan ditujukan untuk mencegah tertularnya infeksi rongga mulut dan tenggorokan yang dapat memicu terjadinya infeksi tonsil. Namun setidaknya upaya yang dapat dilakukan adalah:


Mencuci tangan sesering mungkin untuk mencegah penyebaran mikro-organisme yang dapat menimbulkan tonsilitis.
Menghindari kontak dengan penderita infeksi tanggorokan, setidaknya hingga 24 jam setelah penderita infeksi tenggorokan (yang disebabkan kuman) mendapatkan antibiotika.



KAPAN PERLU OPERASI


Berdasarkan The American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery (AAO-HNS), operasi tonsillitis (tonsillectomy) perlu dilakukan jika memenuhi syarat-syarat berikut:


INDIKASI ABSOLUT:


Tonsil (amandel) yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan, nyeri telan yang berat, gangguan tidur atau sudah terjadi komplikasi penyakit-penyakit kardiopulmonal.
Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan. Dan pembesaran tonsil yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan wajah atau mulut yang terdokumentasi oleh dokter gigi bedah mulut.
Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam.
Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan gambaran patologis jaringan.


INDIKASI RELATIF:


Jika mengalami Tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.
Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada Tonsilitis kronis yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
Tonsilitis kronis atau Tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan antibiotika.
Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan dengan keganasan (neoplastik)
Alasan Yang Tidak benar yang dijadikan Pertimbangan Operasi
Bila tidak operasi kecerdasan menurun
Bila tidak dioperasi mengakibatkan sakit jantung dan sakit paru-paru
Bila tidak di operasi maka oksigen ke otak berkurang anak jadi kurang konsentrasi dan kurang cerdas


KONTRAINDIKASI

Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi melakukan pembedahan tonsil karena bila dikerjakan dapat terjadi komplikasi pada penderita, bahkan mengancam kematian. Keadaan tersebut adalah kelainan hematologik, kelainan alergi-imunologik dan infeksi akut. Kontraindikasi pada kelainan hematologik adalah anemi, gangguan’ pada sistem hemostasis dan lekemi. Pada kelainan alergi-imunologik seperti penyakit alergi pada saluran pernapasan, sebaiknya tidak dilakukan tonsilektomi bila pengobatan kurang dari 6 bulan kecuali bila terdapat gejala sumbatan karena pembesaran tonsil. Pembedahan tonsil sebagai pencetus serangan asthma pernah dilaporkan. Tonsilektomi juga tidak dikerjakan apabila terdapat infeksi akut lokal, kecuali bila disertai sumbatan jalan napas atas. Tonsilektomi sebaiknya baru dilakukan setelah minimal 2­3 minggu bebas dari infeksi akut. Di samping itu tonsilektomi juga tidak dilakukan pada penyakit-penyakit sistemik yang tidak terkontrol seperti diabetes atau penyakit jantung pulmonal




JENIS TEKNIK OPERASI

1) Cara Guillotine 
 Diperkenalkan pertama kali oleh Philip Physick (1828) dari Philadelphia, sedangkan cara yang masih digunakan sampai sekarang adalah modifikasi Sluder. Di negara-negara maju cara ini sudah jarang digunakan dan di Indonesia cara ini hanya digunakan pada anak-anak dalam anestesi umum. Teknik
Posisi pasien telentang dalam anestesi umum. Operator di sisi kanan berhadapan dengan pasien.
Setelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi dengan pembuka mulut. Lidah ditekan dengan spatula.
Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut kiri.
Ujung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub bawah tonsil dimasukkan ke dalam Iubang guillotine. Dengan jari telunjuk tangan kiri pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil masuk ke dalam Iubang guillotine.
Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit.
Setelah diyakini seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine, dengan bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat keluar. Perdarahan dirawat.


2) Cara diseksi
Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Waugh (1909).  Cara ini digunakan pada pembedahan tonsil orang dewasa, baik dalam anestesi umum maupun lokal. Teknik :
Bila menggunakan anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala sedikit ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien.
Dipasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag.
Tonsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial
Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari fosanya secara tumpul sampai kutub bawah dan selanjutnya dengan menggunakan jerat tonsil, tonsil diangkat. Perdarahan dirawat.


3) Cryogenic tonsilectomy 
 Tindakan pembedahan tonsil dapat menggunakan cara cryosurgery yaitu proses pendinginan jaringan tubuh sehingga terjadi nekrosis. Bahan pendingin yang dipakai adalah freon dan cairan nitrogen.
4) Electrosterilization of tonsil 
Merupakan suatu pembedahan tonsil dengan cara koagulasi listrik pada jaringan tonsil.



KOMPLIKASI
Komplikasi tonsilektomi dapat terjadi saat pembedahan atau pasca bedah.
Komplikasi saat pembedahan dapat berupa perdarahan dan trauma akibat alat. Jumlah perdarahan selama pembedahan tergantung pada keadaan pasien dan faktor operatornya sendiri.Perdarahan mungkin lebih banyak bila terdapat jaringan parut yang berlebihan atau adanya infeksi akut seperti tonsilitis akut atau abses peritonsil. Pada operator yang lebih berpengalaman dan terampil, kemungkinan terjadi manipulasi trauma dan kerusakan jaringan lebih sedikit sehingga perdarahan juga akan sedikit. Perdarahan yang terjadi karena pembuluh darah kapiler atau vena kecil yang robek umumnya berhenti spontan atau dibantu dengan tampon tekan. Pendarahan yang tidak berhenti spontan atau berasal dari pembuluh darah yang lebih besar, dihentikan dengan pengikatan atau dengan kauterisasi. Bila dengan cara di atas tidak menolong, maka pada fosa tonsil diletakkan tampon atau gelfoam,  kemudian pilar anterior dan pilar posterior dijahit. Bila masih juga gagal, dapat dilakukan ligasi arteri karotis eksterna. Dari laporan berbagai kepustakaan, umumnya perdarahan yang terjadi pada cara guillotine lebih sedikit dari cara diseksi. Trauma akibat alat umumnya berupa kerusakan jaringan di sekitarnya seperti kerusakan jaringan dinding belakang faring, bibir terjepit, gigi patah atau dislokasi sendi temporomandibula saat pemasangan alat pembuka mulut.
Komplikasi pasca bedah dapat digolongkan berdasarkan waktu terjadinya yaitu immediate, intermediate dan late complication.
Komplikasi segera (immediate complication) pasca bedah dapat berupa perdarahan dan komplikasi yang berhubungan dengan anestesi. Perdarahan segera atau disebut juga perdarahan primer adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pasca bedah. Keadaan ini cukup berbahaya karena pasien masih dipengaruhi obat bius dan refleks batuk belum sempurna sehingga darah dapat menyumbat jalan napas menyebabkan asfiksi. Asfiksi inilah yang dapat mengakibatkan tersumbatnya saluran napas dan membuat komplikasi yang berat dan mengancam jiwa. Penyebabnya diduga karena hemostasis yang tidak cermat atau terlepasnya ikatan.


Yang penting pada perawatan pasca tonsilektomi adalah
(1) baringkan pasien pada satu sisi tanpa bantal,
(2) ukur nadi dan tekanan darah secara teratur,
(3) awasi adanya gerakan menelan karena pasien mungkin menelan darah yang terkumpul di faring dan
(4) napas yang berbunyi menunjukkan adanya lendir atau darah di tenggorok. Bila diduga ada perdarahan, periksa fosa tonsil. Bekuan darah di fosa tonsil diangkat, karena tindakan ini dapat menyebabkan jaringan berkontraksi dan perdarahan berhenti spontan. Bila perdarahan belum berhenti, dapat dilakukan penekanan dengan tampon yang mengandung adrenalin 1:1000. Selanjutnya bila masih gagal dapat dicoba dengan pemberian hemostatik topikal di fosa tonsil dan hemostatik parenteral dapat diberikan. Bila dengan cara di atas perdarahan belum berhasil dihentikan, pasien dibawa ke kamar operasi dan dilakukan perawatan perdarahan seperti saat operasi.Mengenai hubungan perdarahan primer dengan cara operasi, laporan di berbagai kepustakaan menunjukkan hasil yang berbeda-beda, tetapi umumnya perdarahan primer lebih sering dijumpai pada cara guillotine.  Komplikasi yang berhubungan dengan tindakan anestesi segera pasca bedah umumnya dikaitkan dengan perawatan terhadap jalan napas. Lendir, bekuan darah atau kadang-kadang tampon yang tertinggal dapat menyebabkan asfiksi.


Pasca bedah, komplikasi yang terjadi kemudian (interme-diate complication) dapat berupa perdarahan sekunder, hematom dan edem uvula, infeksi, komplikasi paru dan otalgia. Perdarahan sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pasca bedah. Umumnya terjadi pada hari ke 5 ­ 10. Jarang terjadi dan penyebab tersering adalah infeksi serta trauma akibat makanan; dapat juga oleh karena ikatan jahitan yang terlepas, jaringan granulasi yang menutupi fosa tonsil terlalu cepat terlepas sebelum luka sembuh sehingga pembuluh darah di bawahnya terbuka dan terjadi perdarahan. Perdarahan hebat jarang terjadi karena umumnya berasal dari pembuluh darah permukaan.


Cara penanganannya sama dengan perdarahan primer. Pada pengamatan pasca tonsilektomi, pada hari ke dua uvula mengalami edem. Nekrosis uvula jarang terjadi, dan biladijumpai biasanya akibat kerusakan bilateral pembuluh darah yang mendarahi uvula. Meskipun jarang terjadi, komplikasi infeksi melalui bakteremia dapat mengenai organ-organ lain seperti ginjal dan sendi atau mungkin dapat terjadi endokarditis. Gejala otalgia biasanya merupakan nyeri alih dari fosa tonsil, tetapi kadang- kadang merupakan gejala otitis media akut karena penjalaran infeksi melalui tuba Eustachius. Abses parafaring akibat tonsilektomi mungkin terjadi, karena secara anatomik fosa tonsil berhubungan dengan ruang parafaring. Dengan kemajuan teknik anestesi, komplikasi paru jarang terjadi dan ini biasanya akibat aspirasi darah atau potongan jaringan tonsil.


Late complication pasca tonsilektomi dapat berupa jaringan parut di palatum mole. Bila berat, gerakan palatum terbatas dan menimbulkan ri nolalia. Komplikasi lain adalah adanya sisa jaringan tonsil. Bila sedikit umumnya tidak menimbulkan gejala, tetapi bilacukup banyak dapat mengakibatkan tonsilitis akut atau abses peritonsil


Berbagai Kasus Fatal Paska operasi Amandel


Seorang Pasien Kritis Usai Operasi Amandel
Sumber : Metro Malam  Kamis, 24 Desember 2009 23:53 WIB
Seorang pasien kritis setelah menjalani operasi amandel di Rumah Sakit Advent, Bandar Lampung. Pasien bernama Evi Kaduri itu dioperasi pada 7 Desember lalu dan dua hari kemudian muntah darah hingga tak sadarkan diri. Hingga Kamis (24/12), Evi masih terbaring di ruang instalasi khusus (care unit) menggunakan alat bantu pernafasan. Tim dokter memvonis Evi mengalami infeksi pada luka operasinya. Namun, pihak keluarga mengatakan, Evi mengalami gagal ginjal sehingga harus cuci darah setelah operasi. Pihak keluarga berencana  menuntut pihak rumah sakit atas dugaan malapraktik. Direktur Rumah Sakit Advent, Rizal Ronal, membantah pihaknya telah melakukan malpraktik. Bantahan ini ditanggapi lagi oleh pihak keluarga yang meminta dokter menjelaskan penyebab Evi kritis. Sejauh ini, biaya perawatan Evi digratiskan pihak rumah sakit. Manajemen rumah sakit juga berjanji bertanggung jawab mengembalikan kondisi pasien. evi akan dirujuk ke rumah sakit di Jakarta bila keluarga menyetujui. Kejadian komplikasi paska operasi amandel tersebut meski jarang tetapi beberapa kali terjadi kasus yang dilaporkan. jarang terjadi karena tindakan operasi amndel merupakan tindakan operatif ringan. Resiko komplikasi ini meningkat terutama pada penderita yang mengalami hipersensitifitas atau alergi yang tidak ringan.


Pengadilan Untuk Yang Mengangkat Amandel


RUANGAN sidang Pengadilan Jakarta Selatan 4 Agustus sarat dengan pengunjung. Banyak yang terpaksa berdiri. Di situ sedang diadili dua orang dokter. Nyonya Amelia Syukri (bukan nama asli) spesialis THT dan ahli anestesi Syaiful Ismangun (bukan nama sebenarnya) oleh Jaksa J.R. Bangun, SH dituduh “berlaku kurang hati-hati atau berbuat ceroboh dalam melakukan operasi amandel atas diri Erni Handayani, sehingga korban meninggal.” Menurut jaksa, kedua orang dokter itu melanggar pasal 359 KUHP jo. pasal 361 KUHP. Kedua terdakwa nampak tenang saja menghadapi tuduhan jaksa. Padahal jika terbukti mereka bisa dihukum penjara lima tahun. Operasi amandel yang kemudian ternyata berakibat fatal bagi Erni, tujuh tahun, berlangsung 21 Desember 1979. Pembedahan dilaksanakan di tempat praktek dr. Amelia di Jalan BBD, Kelurahan Menteng Daiam, Tebet, Jakarta. Tak Ada Keharusan Dalam persidangan dr. Amelia menyebutkan adanya indikasi tertentu sehingga ia merasa perlu untuk mengangkat amandel Erni. Berdasarkan wawancara dengan Nyonya Julianti (ibu Erni) ia berkesimpulan anak tersebut mengidap radang amandel dan pilek yang kronis. Nyonya Julianti katanya mengemuIakan bahwa Erni sudah dibawa ke beberapa dokter: Namun amandelnya tak kunjung sembuh. “Sebab itu saya berkesimpulan Erni harus dioperasi.” Tapi dalam sidang Nyonya Julianti membantah keterangan dr. Amelia tadi. Katanya ia baru tahu anaknya itu sakit amandel justru dari dr. Amelia. Di persidangan ahli anestesi dr. Syaiful Ismangun menceritahan bahwa dalam melaksanakan pengangkatan amandel, si Erni diberikan suntikan Sulfas atropin, Setelah itu disuntikkan obat bius pentotal. Lantas disuntikkan pula suksinil. “Secara fisik keadaan Erni tidak ada kelainan,” katanya. Operasi berjalan lancar dan hanya memakan waktu setengah jam. Tapi malangnya begitu Erni hendak disadarkan kembali, jantungnya melemah. Syaiful, segera berusaha menormalkan kembali jantung si pasien. Ia berikan suntikan Sulfas antropin. Karena tak membaik ia suntik pula dengan adrenalin. Yang terakhir ini membawa hasil. Denyut jantung yang tadinya hanya 20/menit naik menjadi 108. Tapi keadaan itu ternyata tak berlangsung lama, dan merosot kembali. Keadaan kritis dan mencemaskan di ruangan praktek pribadi itu berlangsung sekitar 25 menit. Atas persetujuan dr. Amelia Syukri, dr Syaiful Ismangun membawa pasien ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.”Karena keadaan Erni benar-benar gawat,” katanya. Anak itu dibaringkan di Intensive Care Unit. Dibantu dua perawat ia berjuang menyelamatkan Erni. “Saya sudah melakukan segalanya, tapi jantungnya tetap. melemah,” ujarnya. Erni meninggal jam enam sore, tiga hari menjelang Natal. Ada apa dengn jantung Erni yang melemah? Dalam Ipersidangan dr. Amelia Syukri mengatakan tak ada keharusan untuk memeriksa jantung si pasien sebelum mel kukan operasi. “Tak ada ketentuannya”. Pasien yang harus diperiksa jantungnya sebelum tindakan operasi, adalah penderita diphtheri atau pasien yang berusia di atas 40,” urainya. Ada pendapat lain: Melemahnya jantung Erni itu kemungkinan, karena terlalu dalamnya pentotal. “Disayangkan ahli anestesi terlalu menganggap mudah pemakaian obat yang daya kerjanya begitu cepat,” seorang ahli bedah memberikan ulasan. Keterangan mengenai kematian Erni itu mungkin bisa terungkap dalam pengadilan. Mayat Erni memang diautopsi. Dan saksi ahli akan memberikan keterangan dalam persidangan berikutnya. Kalangan dokter yang mengikuti persilangan menyesalkan Hakim Pitoyo, SH yang mempermasalahkan surat kematian yang ditulis dr. Amelia Syukri di atas kertas resep. “Tak selayaknya memberikan keterangan kematian dalam blanko resep. Kita ‘kan orang timur,” kata Pitoyo, SH.. Keterangan di atas kertas resep itu sebenarnya sudah cukup. Yang memberatkan kedua dokter ialah operasi tadi dilaksanakan tanpa adanya surat keterangan persetujuan dari pihak pasien. Tapi yang mendorong Nyonya Julianti mengadu justru keterangan tentang kematian yang ditulis di atas kertas resep. Rupanya dia menganggap cara itu kurang senonoh. Di persidangan, Nyonya Julianti mengaku pernah menerima uang duka Rp 500.000 dari dr. Amelia. Tapi itu katanya diberikan “39 hari setelah Erni meninggal dan setelah pengaduan sampai ke pihak kepolisian.” Dan buat dia tentu bukan uang duka itu yang mendesak. Tapi keterangan yang tuntas mengenai kematian anaknya itu. Dokter Samsudin, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Pusat menganggap pengaduan masyarakat terhadap tindak tanduk dokter merupakan gejala perkembangan masyarakat. Tapi Samsudin beranggapan belum waktunya dokter dituntut, sebagaimana di Barat. Sebab masyarakat di sini katanya belum cukup matang. Peralatan teknis kedokteran untuk mengetahui sebab kecelakaan pengobatan belum memadai.


Meninggal Paska Operasi Amandel


Sumber : Republika.


Malam itu, 26 Januari lalu di RS Mitra Keluarga, Reviandra Savitri, bocah 6 tahun, menghembuskan nafas terakhirnya di ruang unit gawat darurat anak lantai dua. Anak pertama pasangan Johan Aidar dan Efriani meninggal saat menjalani operasi amandel. Sempat ada dugaan, kematian bocah cantik ini karena kelalaian pembiusan kendati pihak rumah sakit sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa kejadian itu bukan karena kesalahan medis
Operasi Amandel Yang Berujung Kematian
Operasi pengangkatan amandel berujung maut. Bocah lelaki berusia 8 tahun tewas di duga mal praktik setelah mendapat 2 suntikan di RSUD Cibinong. Sebelumnya dia menjalani operasi amandel dan saat mau pulang suster menyuntiknya hingga tubuhnya kebiru-biruan lalu meninggal. Dugaan malpraktik ini menimpa Ihsan Akbar Kinanti, siswa kelas III,  putra pertama pasangan Oki Nasputra dengan Agustin Isa Putri, warga perumahan Bogor Asri Blok B5 No.13 Kelurahan Nanggewer, Bogor.


Menurut Oki sang ayah, Ihsan menderita amandel sejak kecil. Setelah berusia 8 tahun, Oki membawa putranya ke RSU Cibinong untuk operasi pengangkatan amandel. Rabu Ihsan masuk ke ruang operasi yang ditangani dr. Dadang Krisna dan berjalan lancer. Sehari setelah operasi di bawa ke ruang perawatan dan kondisinya terus membaik.


Kamis, Oki meminta Dr. Dadang Krisna agar anaknya diperbolehkan pulang. Namun sebelum pulang dating seorang suster yang membawa empat pet suntikan dan menyuntikkannya kepada ihsan. Sesaat
setelah disuntik tubuh Ihsan mendadak biru-biru. Bahkan Ihsan mengeluarkan air kencing, menahan rasa sakitnya. Saat itu, suster itu terlihat panic. Kemudian, menyuntik Ihsan kembali. Kemudian Ihsan dibawa ke ruang ICU, namun Jumat Ihsan meninggal dunia. Peristiwa ini membuat Oki dan istrinya tak bisa menahan rasaharu. Humas RSD Cibinong, dr Wahju Kurnijanti membantah bila kematian Ihsan akibat malpraktik.


sumber :http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1759630-operasi-amandel-yang-berujung-kematian/


Pasien Amandel Tewas, Dokter Dilaporkan


sumber  detikNews
Dokter di RSAL Mintohardjo dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Sabtu (23/12/2006). Mereka diduga melakukan malpraktik yang menyebabkan pasiennya meninggal dunia. Dokter adalah dr R yang praktik di RSAL Mintohardjo di kawasan Benhil. Laporan disampaikan keluarga kedua korban, yakni almarhumah Sriyanah. Keluarga yang melaporkan didampingi Direktur LBH Kesehatan Moch Sentot Sedayuaji. Keluarga almarhumah Rodiah diwakili adiknya, Novita Sulistyowati, sedangkan almarhumah Siti Rodiah diwakili suaminya, M Djutari. Kedua laporan tersebut masing-masing bernomor 4848/K/XII/2006/SKP Unit II dan 4849/K/XII/2006/SKP Unit II. Ancaman Dokter tersebut diancam dengan pasal 359 KUHP, pasal 51 huruf a juncto 79 huruf c UU 29/2004 tentang praktik kedokteran yang berbunyi, karena kelalaian menyebabkan orang meninggal, tidak menjalankan tindakan medis sesuai SOP. Kedua dokter dianggap lalai karena telah menyebabkan pasiennya meninggal. Menurut Novita, kakaknya, Sriyanah, pada 31 Oktober dibawa ke RSAL Mintohardjo untuk mendapatkan perawatan sebelum operasi amandel. Operasi terhadap ibu satu anak yang bekerja sebagai PNS di BLKD itu dilakukan keeseokan harinya, 1 November pukul 08.30 WIB. Operasi yang dilakukan oleh dokter Radito ternyata tidak berjalan lancar. Pukul 09.30 WIB, Sriyanah mengalami pendarahan hingga lebih dari satu ember. Untuk menghentikan pendarahan, pukul 17.30 WIB, Sriyanah kembali dibawa ke ruang operasi untuk dioperasi kembali. Operasi berlangsung selama 1 jam. Namun setelah tindakan tersebut, Sriyanah tidak sadarkan diri selama 1 bulan 9 hari. Pada 1 Desember, keluarga melihat ada keganjilan, yakni terdapat bercak-bercak merah di belakang tubuh, dada, telinga, ketiak kanan kiri, lengan kanan kiri. Bahkan pada 3 Desember, kedua kelopak matanya berwarna kuning. Pada 4 Desember, Sriyanah ditangani dokter ahli kulit, Syarif Hidayat. Setelah ditangani dokter Syarif, kulit kemerahannya memang berkurang, tapi merambah ke paha kaki Sriyanah. Pada 5 Desember, dr Atikah yang ahli paru-paru mengatakan paru-paru Sriyanah berisi air dan HB turun drastis. Empat hari kemudian, 9 Desember pukul 06.45 WIB, Sriyanah kejang-kejang dan matanya melotot tidak berkedip. Dari mulutnya juga keluar cairan dan darah tanpa henti. Sriyanah kemudian disuntik antikejang oleh dr Rony. Warga Pesanggrahan, Jakarta Selatan itu juga diberi obat untuk otaknya. Namun obat tersebut menyebabkan kulit Sriyanah memerah dan jadi sangat tebal, sehingga obat dihentikan. Serelah dihentikan, Sriyanah mengalami kejang-kejang lagi. “Kejang-kejangnya sangat mengerikan, sejak pukul 06.00 WIB sampai pukul 11.15 WIB, Mbak Nana menemui ajalnya,” tutur Novi. “Kematian kakak saya tragis sekali, kadang-kadang anaknya masih sering ngajak ke kuburan maminya, dia sering kangen sama maminya,” ujar dia. Didampingi LBH Kesehatan, keluarga Sriyanah juga akan menyampaikan tuntutan perdata yang pekan depan akan didaftarkan ke PN Jakpus.


Rasa Terbakar, Komplikasi  Pascaoperasi Amandel


Penggunaan peralatan pembakaran (cautery) selama operasi tonsil atau lebih dikenal operasi amandel, dapat mengakibatkan komplikasi pascaoperasi yaitu rasa terbakar di sekitar bibir dan mulut.  Menurut Dr Albert H Park dari University of Utah School of Medicine, Salt Lake, Amerika Serikat, operasi pengangkatan dari tonsil bersama kelenjar adenoid yang berdekatan tetap menjadi salah satu operasi yang paling umum di Amerika serikat.  Penelitian dilakukan terhadap anak-anak dan remaja itu mengungkap, tujuh pasien yang mengalami rasa mulut terbakar dari 4.327 operasi yang dilakukan di Primary Children’s Medical Center (PCMC). Sementara itu, dari 298 survei yang dilakukan, sebanyak 101 dijawab dengan lengkap. Sekitar 61 responden melaporkan memiliki pasien yang merasakan rasa terbakar di sekitar mulutnya.  Perkiraan secara kasar yaitu sekitar 10 persen pasien mengalami rasa terbakar yang hebat sehingga membutuhkan perawatan tambahan. Diperkirakan, sebagian besar rasa terbakar tersebut timbul ketika proses pengangkatan tonsil dengan peralatan yang digunakan dengan membakar di sekitar area


Bagaimana Sikap Orangtua


Bila indikasi absolut terjadi pada penderita maka memang sebaiknya orangtua atau penderita tidak usah ragu dalam melakukan operasi.
Bila terdapat indikasi Relatif maka pertimbangan untuk rugi tindakan harus dilakukan dengan cermat, bila perlu bisa saja melakukan second opinion atau pendapat kedua pada dokter lainnya. Dalam keadaan kondisi relatif bisa saja ditunda bila terdapat pertimbangan keuangan atau takut resiko efek samping operasi amandel yang terjadi. Meskipun jarang memang setiap tindakan operasi bisa mengakibatkan efek samping selama operasi dan paska operasi. Akibat dan resiko operasi ini juga harus diinformasikan kepada penderita. Pada umumnya penderita baru tahu resikonya bila sudah terjadi.
Bila pertimbangan yang tidak benar seperti di atas  dijadikan alasan operasi, tidak ada salahnya penderita menunda melakukan operasi tetapi segera melakukan second opinion kepada dokter lain sebelum memutuskan tindakan operasi amandel.





Oleh :  Dr WIDODO JUDARWANTO SpA
Children’s ALLERGY CENTER
JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

"Mama, Jangan Benci Aku"

Kisah ini benar adanya dan saya menulisnya dengan hati yang dalam supaya kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua supaya jangan ter...